Blognya Anak ManaGemenT

Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan

Sejarah dan Bentuk Media Massa

Posted by Naziri Andanta (Mekhanai Kesih) On Selasa, 20 Juli 2010 0 komentar

Sejarah dan Bentuk Media Massa
Media massa atau pers adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media. Media massa ini pun memilih khalayak sebagai konsumen atau pengguna jasanya.
A. Jenis-jenis media massa
1. Media massa tradisional
Media massa tradisional adalah media massa dengan otoritas dan memiliki organisasi yang jelas sebagai media massa dimana terdapat ciri-ciri seperti:
1. Informasi dari lingkungan diseleksi, diterjemahkan dan didistribusikan
2. Media massa menjadi perantara dan mengirim informasinya melalui saluran tertentu.
3. Penerima pesan tidak pasif dan merupakan bagian dari masyarakat dan menyeleksi informasi yang mereka terima.
4. Interaksi antara sumber berita dan penerima sedikit.

Macam-macam media massa tradisional

1. Surat Kabar
Surat kabar juga dikenal dengan nama koran. Koran berasal dari bahasa Belanda, yaitu krant dan bahasa Perancis, yaitu courant. Koran atau surat kabar adalah suatu penerbitan yang ringan dan mudah dibuang, biasanya dicetak pada kertas berbiaya rendah yang disebut kertas koran, yang berisi berita-berita terkini dalam berbagai topik. Topiknya bisa berupa even politik, kriminalitas, olahraga, tajuk rencana, cuaca. Surat kabar juga biasa berisi kartun, TTS dan hiburan lainnya.
Surat kabar memiliki tiga fungsi utama dan fungsi sekunder. Fungsi utama media adalah :
1. To inform (menginformasikan kepada pembaca secara objektif tentang apa yang terjadi dalam suatu komunitas, negara dan dunia,
2. To comment (mengomentari berita yang disampaikan dan mengembangkannya ke dalam fokus berita,
3. To provide (menyediakan keperluan informasi bagi pembaca yang membutuhkan barang dan jasa melalui pemasangan iklan di media.

Fungsi Sekunder media adalah :
1. Untuk mengkampanyekan proyek-proyek yang bersifat kemasyarakatan, yang diperlukan sekali untuk membantu kondisi-kondisi tertentu
2. Memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian cerita komik,kartun dan cerita-cerita khusus,
3. Melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi agen informasi dan memperjuangkan hak.

Sejarah Singkat Surat Kabar di Indonesia
Zaman Belanda, di Jakarta terbit Javasche Courant tahun 1828 isinya tentang berita resmi pemerintah, berita lelang dan berita kutipan harian di Eropa. Surat kabar pada masa itu tidak mempunyai arti secara politis karena lebih merupakan surat kabar periklanan. Tirasnya mencapai 1000-1200 eksemplar setiap kali terbit. Pada tahun 1885 terdapat 16 surat kabar berbahasa Belanda dan 12 surat kabar berbahasa Melayu satu berbahasa Jawa yang terbit di Solo.
Zaman Jepang. Jepang datang, surat kabar diambil alih secara pelan-pelan. Beberapa surat kabar disatukan dengan alasan untuk menghemat alat-alat, tenaga. Tujuan sebenarnya adalah agar pemerintah dapat memperketat pengawasan terhadap isi surat kabar. Kantor Berita Antara pun diambil alih dan diteruskan oleh kantor Berita Yashima. Surat kabar bersifat propaganda dan memuji-muji pemerintah dan tentara Jepang.
Zaman Kemerdekaan. Surat kabar yang diterbitkan pada masa itu merupakan tandingan dari surat kabar yang diterbitkan pemerintahan Jepang. Pada zaman ini, banyak sekali pembredelan surat kabar karena isi bersifat propaganda bagi pemeritnah pada waktu itu, seperti surat kabar Berita Indonesia, Harian rakyat, Soeara Indonesia.
Zaman Orde Lama. Setelah dekrit 5 Juli 1959, terdapat larangan kegiatan politik, termasuk pers. Persyaratan mendapatkan SIT dan Surat Izin Cetak diperketat.
Zaman Orde Baru. Pertumbuhan pers cukup marak di satu pihak cukup menggembirakan, tapi di pihak lain perlu diwaspadai. Pertumbuhan pers yang bebas dan merdeka, suatu pertanda bahwa kehidupan demokrasi terjamin. Penggunaan hak kebebasan pers yang kurang wajar dan bertanggung jawab, masih banyak surat kabar yang terdorong oleh tujuan komersil ataupun motif lainnya menyajikan berita-berita sensasional yang pada gilirannya akan dapat merusak stabilitas nasional. Pemerintah memberikan ganjaran berupa pencabutan Surat Izin Terbit, dan Surat izin Usaha Penerbitan Pers, seperti Sinar Harapan, tabloid Monitor dan Detik, majalah Tempo dan Editor.
Fungsi Surat Kabar
Dari empat fungsi media massa (informasi, edukasi, hiburan dan persuasif), fungsi yang paling menonjol pada surat kabar adalah informasi. Hal ini sesuai dengan tujuan utama khalayak membaca surat kabar, yaitu keingintahuan akan setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Fungsi hiburan dapat ditemukan pada rubrik artikel ringan, feature, komik atau kartun seta cerita bersambung. Fungsi mendidik dan mempengaruhi akan ditemukan pada artikel ilmiah, tajuk rencana atau editorial dan rubric opini. Fungsi pers bertambah, yiatu sebagai alat kontrol sosial yang konstruktif.

Karakteristik Surat Kabar
Untuk dapat memanfaatkan media massa secara maksimal dan tercapainya tujuan komunikasi, maka seorang komunikator harus memahami kelebihan dan kekurangan media tersebut. Karakteristik surat kabar sebagai media massa mencakup: publisitas, periodisitas, universalitas, aktualitas dan terdokumentasikan.
Untuk menyerap isi surat kabar, dituntut kemampuan intelektualitas tertentu. Khalayak yang buta huruf tidak dapat menerima pesan surat kabar begitu juga yang berpendidikan rendah.

Kategorisasi Surat Kabar
Dilihat dari ruang lingkupnya, surat kabar nasional, regional, dan lokal. Ditinjau dari bentuknya, ada surat kabar biasa dan tabloid. Dilihat dari bahasa yang digunakan, ada surat kabar Berbahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Daerah. Ada juga surat kabar yang dikembangkan untuk bidang-bidang tertentu, misalnya berita untuk industri tertentu, penggemar olahraga tertentu, penggemar seni atau partisipan kegiatan tertentu.
Jenis surat kabar umum biasanya diterbitkan setiap hari, kecuali pada hari-hari libur. Surat kabar sore juga umum di beberapa negara. Selain itu, juga terdapat surat kabar mingguan yang biasanya lebih kecil dan kurang prestisius dibandingkan dengan surat kabar harian dan isinya biasanya lebih bersifat hiburan.
Kebanyakan negara mempunyai setidaknya satu surat kabar nasional yang terbit di seluruh bagian negara. Di Indonesia, contohnya adalah KOMPAS. Pemilik surat kabar, atau sang penanggung jawab, adalah sang penerbit, Orang yang bertanggung jawab terhadap isi surat kabar disebut editor.

2. Majalah
Majalah adalah penerbitan berkala yang berisi bermacam-macam artikel dalam subyek yang bervariasi. Majalah biasa diterbitkan mingguan, dwimingguan atau bulanan. Majalah biasanya memiliki artikel mengenai topik populer yang ditujukan kepada masyarakat umum dan ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh banyak orang. Publikasi akademis yang menulis artikel padat ilmu disebut jurnal.

Menurut Dominick, klasifikasi majalah dibagi kedalam lima kategori utama, yakni: (1) general consumer magazine (majalah konsumen umum), (2) business publication (majalah bisnis), (3) literacy reviews and academic journal (kritik sastra dan majalah ilmiah), (4) newsletter (majalah khusus terbita berkala), (5) Public Relations Magazines (Majalah Humas). Majalah yang mampu bertahan umumnya adalah yang bersifat khusus, misalnya majalah khusus wisata, olahraga, hobi perahu layar, penggemar acara televisi, berita-berita ilmiah, budaya, agama, wanita, dan lain-lain. Majalah harus mampu menyesuaikan diri agar tetap bertahan dengan persaingan dengan bentuk media massa yang lain. Oleh karena itu, majalah yang laku saat ini adalah majalah-majalah yang bersifat khusus.

Sejarah Majalah Di Indonesia
Keberadaannya dimulai pada masa menjelang dan awal kemerdekaan Indonesia. Tahun 1945 terbit majalah bulanan dengan nama Panja raja pimpinan Markoem Djojo Hadisoeparto
Awal Kemerdekaan. Majalah Revue Indoensia yang diterbitkan oleh Soemanang, SH telah mengemukakan gagasannya perlunya koordinasi penerbitan surat kabar yang jumlahnya sudah mencapai ratusan. Terbit semuanya dengan satu tujuan, yaitu menghancurakan sisa-sisa kekuasaan Belanda, mengobarkan semangat perlawanan rakyat terhadap bahaya penjajahan, menempa persatuan nasional utnuk keabadian kemerdekaan bangsa dan penegakan kedaulatan rakyat.
Zaman Orde Lama. Penguasa Perang Tertinggi mengeluarkan pedoman resmi untuk penerbit surat kabar dan majalah di seluruh Indonesia. Pedoman itu intinya adalah surat kabar dan majalah wajib menjadi pendukung, pembela dan alat penyebar. Pada masa ini perkembangan majalah tidak begitu baik, karena relatif sedikit majalah yang terbit.
Zaman Orde baru. Banyak majalah yang terbit dan cukup beragam jenisnya. Hal ini sejalan dengan kondisi perekonomian bangsa Indonesia yang makin baik, serta tingkat pendidikan masyarakat yang makin maju.

Kategori majalah
Tipe majalah ditentukan oleh sasaran khalayak yang dituju, artinya redaksi sudah menentukan siapa yang akan menjadi pembacanya. Kategori majalah pada masa Orde baru; majalah berita, keluarga, wanita, pria, remaja wanita, remaja pria, anak-anak, ilmiah popular, umum, hukum, pertanian, humor, olahraga, daerah.

Fungsi Majalah
Fungsi majalah mengacu pada sasaran khalayak yang spesifik. Majalah dengan topic atau kategori tertentu mempunyai spesialisasi sasaran pembeli dan pembaca yang dikehendaki.

Karakteristik Majalah
Majalah media yang paling simple organisasinya, relatif lebih mudah mengelolanya, serta tidak membutuhkan modal yang banyak. Majalah tetap dibedakan dengan surat kabar karena majalah memiliki karakteristik tersendiri : penyajian lebih dalam, nilai aktualitas lebih lama, gambar/foto lebih banyak, cover/sampul sebagai daya tarik.

3. Radio siaran
Radio adalah media elektronik tertua dan sangat luwes. Radio telah beradaptasi dengan perubahan dunia, dengan mengembangkan hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media lainnya. Keunggulan radio adalah berada dimana saja, di tempat itdur, di dapur, di dalam mobil, di kantor, di jalan, di pantai dan berbagai tempat lainnya. Radio merupakan teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Gelombang ini melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut (seperti molekul udara).

Banyak penggunaan awal radio adalah maritim, untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode Morse antara kapal dan darat. Salah satu pengguna awal termasuk Angkatan Laut Jepang memata-matai armada Rusia pada saat Perang Tsushima di 1901. Salah satu penggunaan yang paling dikenang adalah pada saat tenggelamnya RMS Titanic pada 1912, termawuk komunikasi antara operator di kapal yang tenggelam dan kapal terdekat, dan komunikasi ke stasiun darat mendaftar yang terselamatkan.

Radio digunakan untuk menyalurkan perintah dan komunikasi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut di kedua pihak pada Perang Dunia II; Jerman menggunakan komunikasi radio untuk pesan diplomatik ketika kabel bawah lautnya dipotong oleh Britania. Amerika Serikat menyampaikan Empat belas Pokok Presiden Woodrow Wilson kepada Jerman melalui radio ketika perang.

Siaran mulai dapat dilakukan pada 1920-an, dengan populernya pesawat radio, terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Selain siaran, siaran titik-ke-titik, termasuk telepon dan siaran ulang program radio, menjadi populer pada 1920-an dan 1930-an. Penggunaan radio dalam masa sebelum perang adalah pengembangan pendeteksian dan pelokasian pesawat dan kapal dengan penggunaan radar. Sekarang ini, radio banyak bentuknya, termasuk jaringan tanpa kabel, komunikasi bergerak di segala jenis, dan juga penyiaran radio.

Sejak kemunculannya, radio sudah diyakini akan menjadi media informasi yang bersifat massal. Berkat kemajuan teknologi selama tahun-tahun sejak Marconi menemukan alat transmisi tanpa kabel di tahun 1895, radio dipandang sebagai pesaing utama tberlegram, baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai temuan ilmiah. Radio dengan cepat memperoleh penggemar dan saat itu radio yang mmapu menangkap siaran dari berbagai tempat merupakan status simbol tersendiri.

Radio memiliki sisi positif dibandingkan bentuk media massa yang lain sehingga ia tetap diminati khalayak meskipun harus hidup di tengah-tengah persaingan dengan bentuk media massa yang lain. Radio terbatu oleh penemuan transistor yang membuatnya jauh lebih ringkas. Kecenderungnya adalah jangkauan siaran radio yang sempit. Hal ini mengakibatkan radio hanya mampu melayani suatu wilayah kecil saja. Jaringan radio yang menyiarkan hal yang sama di banyak tempat sekaligus pada era 1930-an hingga 1940-an begitu popular. Lebih dari itu, banyak radio yang membidik hanya sebagian khalayak saja, bukan seluruh khalayak. Seperti halnya yang dilakukan oleh majalah. Dengan cara seperti ini, radio dapat meraih keuntungan. Namun, di kota-kota besarnyang persaingannya begitu ketat, semua radio harus bekerja keras agar dapat bertahan.

Sejarah Radio di Indonesia
Zaman Belanda. Siaran pertama di Indonesia ialah Bataviase Radio Siaran Vreniging (BRV) di Batavia yang resminya pada tanggal 16 Juni 1925 pada saat Indonesia masih dijajah Belanda dan berstatus swasta, kemudian berdirilah radio di daerah karena mendapat bantuan dari Hindia Belanda.

Zaman Jepang. Radio siaran yang tadinya berstatus perkumpulan swasta dinonaktifkan dan diurus oleh jawatan khusus bernama Hoso Kanri Kyoku, merupakan pusat radio yang berkedudukan di Jakarta. Namun beberapa pemuda secara sembunyi-sembunyi mendengarkan siaran luar negeri, sehingga mereka dapat mengetahui bahwa pada Jepang telah menyerah kepada sekutu.

Zaman Kemerdekaan. Ketika proklamasi tidak dapat disiarkan melalui siaran radio, karena masih dikuasai oleh Jepang. Baru pada tanggal 18 Agustus naskah proklamasi dapat didengar di seluruh tanah air. Tanggal 11 September dibentuk sebuah organisasi radio siaran (RRI).

Zaman Orde baru. Peran dan fungsi radio ditingkatkan selain berfungsi sebagai media informasi dan hiburan, pada masa orde baru, radio siaran melalui RRI menyajikan acara pendidikan dan persuasi. Selanjutnya, stasiun RRI regional juga membantu menginformasikan program-program pemerintah, seperti Keluarga Berencana, kebersihan lingkungan, imunisasi ibu hamil dan balita.

Radio Siaran Sebagai The Fifth Estate
Surat kabar memperoleh julukan sebagai kekuatan keempat, maka radio siaran mendapat julukan kekuatan kelima atau the fifith estate. Karena radio siaran juga dapat melakukan fungsi kontrol sosial seperti surat kabar, disamping empat fungsi lain yakni memberi informasi, menghibur, mendidik dan melakukan persuasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan radio siaran adalah daya langsung, daya tembus dan daya tarik.

Karakteristik Radio Siaran
Pada Radio siaran terdapat cara tersendiri, yakni apa yang disebut radio siaran style atau gaya radio siaran. Gaya radio siaran ini disebabkan oleh sifat radio siaran yang mencakup : Imanjinatif, Auditori, Akrab, Gaya Percakapan.

4. Televisi
Televisi merupakan media dominan komunikasi massa di seluruh dunia dan sampai sekarang masih terus berkembang. Dari semua media massa, televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. Televisi dijejali hiburan, berita dan iklan. Mereka menghabiskan waktu menonton televisi sekitar tujuh jam dalam sehari. Televisi mengalami perkembangan secara dramatis terutama melalui pertumbuhan televisi kabel.

Sejarah Televisi
Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia 'televisi' secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.

Dalam penemuan televisi, terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun badan usaha. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun. Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, hukum gelombang elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.

Televisi merupakan perkembangan baru setelah radio yang ditemukan dengan karakternya yang spesifik, yaitu audio visual. Peletak dasar utama teknologi pertelevisian tersebut adalah Paul Nipkow dari Jerman yang dilakukannya pada tahun 1884. Ia mengirim gambar melalui udara dari satu tempat ke tempat lain sebuah alat yang kemudian disebut Jantra Nipkow atau Nipkow Sheibe. Hal ini terjadi antara tahun 1883-1884. Penemuannya tersebut melahirkan electrische teleskop atau televisi elektris.

Siaran Televisi di Indonesia
Dimulai pada tanggal 24 Agustus 1962, bertepatan dengan berlangsungnya pembukaan pesta olah raga Asean Games di Senayan. Selama tahun 1962-1963 TVRI berada di udara rata-rata satu jam sehari dengan segala kesederhanaannya. Sejalan dengan kepentingan pemerintah dan keinginan rakyat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah, pada tanggal 16 Agustus 1976 diresmikan penggunaan satelit Palapa A2, selanjutnya Palapa B, Palapa B-2, Palapa B2R dan Palapa B-4 yang diluncurkan tahun 1992. Televisi siaran dan radio siaran, serta media lainnya berperan saling mengisi. Televisi siaran menggeser radio siaran mungkin dalam hal porsi iklan.

Faktor yang perlu diperhatikan adalah pesan yang akan disampaikan melalui media televisi, memerlukan pertimbangan-pertimbangan lain agar pesan tersebut dapat diterima oleh khalayak sasaran. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan itu adalah pemirsa, waktu, durasi dan metode penyajian.

Saat ini, puluhan saluran televisi tersedia dan dapat dipilih sekehendak hati. Industri pertelevisian saling bersaing untuk menyajikan acara-acaranya yang terbaik agar dapat ditonton oleh masyarakat. Semua tentu dilandasi oleh alasan bisnis. Sebagian besar, stasiun televisi banyak dikelola oleh swasta komersial, tetapi beberapa diantaranya juga merupakan stasiun televisi nonkomersial. Stasiun televisi nonkomersial ini bertujuan untuk kepentingan masyarakat. Di Indonesia, contohnya adalah TVRI atau Televisi Republik Indonesia yang banyak menyiarkan berita dan dunia pendidikan.

Fungsi Televisi
Memberikan informasi, menghibur dan membujuk. Tetapi fungsi menghibur lebih dominan pada media televisi. Tujuan utama khalayak menonton televisi adalah untuk memperoleh hiburan, selanjutnya untuk memperoleh informasi.

Karakteristik Televisi
Ditinjau dari stimulasi alat indera, dalam radio siaran, surat kabar dan majalah hanya satu alat indera yang mendapat stimulus, namun pada televisi, indera yang bereaksi lebih banyak yaitu : audiovisual, berpikir dalam gambar, pengoperasian lebih kompleks.

5. Film
Gambar bergerak adalah bentuk dominan dari komunikasi massa. Film lebih dulu menjadi media hiburan dibanding radio siaran dan televisi. Menonton televisi menjadi aktivitas populer bagi orang Amerika pada tahun 1920-an sampai 1950-an. Film adalah industri bisnis yang diproduksi secara kreatif dan memuhi imajinasi orang-orang yang bertujuan memperoleh estetika.

Film adalah gambar-hidup, juga sering disebut movie (semula pelesetan untuk 'berpindah gambar'). Film, secara kolektif, sering disebut 'sinema'. Gambar-hidup adalah bentuk seni, bentuk populer dari hiburan, dan juga bisnis. Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk fantasi dan figur palsu) dengan kamera, dan/atau oleh animasi.

Sejarah Film
*tahun 1250, ditemukan sebuah kamera bernama OBSCURA.
*tahun 1250-1895, disebut dengan masa pra sejarah film karena itu merupakan masa dimana terdapat penemuan baru yg disebabkan obsesi besar orang Eropa.
contoh: terciptanya sebuah alat yang bisa merekam gerak (yang hingga kini digunakan untuk membuat sebuah film)
*tahun 1895, dikenal sebagai tahun dimana awal adanya sebuah sinema. Pada tanggal 28 Desember 1895, lumiere bersaudara (frere) yaitu Louis dan Auguste mempertunjukan cinematograph untuk pertama kalinya kpd masyarakat paris di sebuah cafe hanya dengan membayar 1 franc. jd hingga saat ini hal itulah yang dianggap menjadi hari dimana sebuah sinema itu ada.

Perfilman di Indonesia
Film pertama yang diputar berjudul Lady Van Java yang diproduksi di Bandung pada tahun 1926 oleh David. Pada saat perang Asia Timur Raya di penghujung tahun 1941, perusahaan perfilman yang diusahakan oleh orang Belanda dan Cina itu berpindah tangan kepada pemerintah Jepang. Jepang telah memanfaatkan film untuk media informasi dan propaganda. Setelah proklamasi kemerdekaan, maka pada tanggal 6 Oktober 1945 Nippon Eiga Sha diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada 6 Oktober 1945 lahirlah Berita Film Indonesia atau BFI bersamaan dengan pindahnya Pemerintah RI dari Yogyakarta. BFI bergabung dengan Perusahaan Film Negara, yang pada akhirnya berganti nama menjadi Perusahaan Film Nasional.

Fungsi Film
Khalayak menonton film terutama untuk hiburan. Akan tetapi dalam film terkandung fungsi informatif maupun edukatif, bahkan persuasif. Film nasional dapat digunakan sebagai media edukasi untuk pembinaan generasi muda dalam rangka nation and character building. Fungsi edukasi dapat tercapai apabila film nasional memproduksi film-film sejarah yang objektif atau film dokumenter dan film yang diangkat dari kehidupan sehari-hari secara berimbang.

Karakteristik Film
Faktor-faktor yang dapat menunjukkan karakteristik film adalah layar lebar, pengambilan gambar, konsentrasi penuh dan identifikasi psikologis

Jenis-jenis Film
Bagi seorang komunikator adalah penting untuk mengetahui jenis-jenis film agar dapat memanfaatkan film tersebut sesuai dengan karakteristiknya. Film dapat dikelompokkan pada jenis film cerita, film berita, film dokumenter, dan film kartun.
2. Media massa modern

Seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial budaya, telah berkembang media-media lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular.

Media massa yang lebih modern ini memiliki ciri-ciri seperti:
1. Sumber dapat mentransmisikan pesannya kepada banyak penerima (melalui SMS atau internet misalnya)
2. Isi pesan tidak hanya disediakan oleh lembaga atau organisasi namun juga oleh individual
3. Tidak ada perantara, interaksi terjadi pada individu
4. Komunikasi mengalir (berlangsung) ke dalam
5. Penerima yang menentukan waktu interaksi


Komputer dan Internet
Situs juga menjadikan sumber informasi untuk hiburan dan informasi perjalanan wisata. Pengguna internet menggantungkan pada situs untuk memperoleh berita. Dua sampai tiga pengguna internet mengakses situs untuk mendapatkan berita terbaru setiap minggunya.

Industri media komputer memiliki beberapa bidang utama, antara lain: pabrik perangkat keras komputer, perangkar lunak komputer. Content provider adalah yang mengembangkan isi dan database yang didistribusikan melalui jaringan komputer. Bagian dari perangkat lunak komputer terdapat pula Internet Service Provider (ISPs), yakni perusahaan yang menjual akses internet.

Internet merupakan jaringan longgar dari ribuan komputer yang menjangkau jutaan orang di seluruh dunia. Misi awalnya adalah sarana bagi para peneliti untuk mengakses data dari sejumlah sumber daya perangkat keras menjadi ajang komunikasi yang sangat cepat dan efektif. Saat ini internet telah tumbuh menjadi sedemikian besar dan berdaya sebagai alat informasi dan komunikasi yang tak dapat diabaikan. Internet unggul dalam menghimpun berbagai orang, karena geografis tak lagi menjadi pembatas, berbagai orang dari negara dan latar belakang yang berbeda dapat saling bergabung berdasarkan kesamaan minat dan proyeknya. Internet menyebabkan begitu banyak perkumpulan antara berbagai orang dan kelompok.

Sebagian besar komputer dan jaringan yang tersambungkan ke internet masih berkaitan dengan masyarakat pendidikan dan penelitian. Kenyataan ini tidaklah mengejutkan karena internet memang lahir dari benih penelitian. Hal yang membedakan internet (dan jaringan global lainnya) dari teknologi komunikasi tradisional adalah tingkat interaksi dan kecepatan yang dapat dinikmati pengguna untuk menyiarkan pesannya. Tak ada media yang memberi setiap penggunanya kemampuan untuk berkomunikasi secara seketika dengan ribuan orang. Ada alasan yang bagus mengenai jurnalisme yang baik, yaitu informasinya harus menarik, tepat waktu, dan cepat.

Sistem Komunikasi Massa

Posted by Naziri Andanta (Mekhanai Kesih) On 1 komentar

01. Definisi Komunikasi Massa
Di dalam catatan sejarah Publisistik, komunikasi massa dimulai satu setengah abad setelah ditemukan mesin cetak oleh Johan Gutenberg. Stappers menyimpulkan dalam disertasinya yang ditulis 1966, bahwa komunikasi massa adalah objek dari publisistikwissenschaft (Djajusman, 1985:13 dalam kutipan Wiryanto, 2004 :67).
Publisistik kerap dipakai dalam makna yang identik dengan Komunikasi Massa. Pengembangan Publisistik, yang dititikberatkan ke kajian di bidang pers dilakukan oleh Hagemann (1966). Selanjutnya, Dovifat (1968) mengembangkan dengan memilih objek penelitiannya tentang pernyataan publik (offentliche aussage). Dovifat pun membangun definisi atas Publisistik: "Segala usaha untuk menggerakkan dan membimbing tingkah laku publik secara rohaniah".
Enam unsur pokok publisistik yang ditetapkan Dovifat:
1) Ditujukkan kepada publik (offentlichkeit);
2) Bersifat aktual (aktualitat);
3) Berdasarkan norma (gesinnung);
4) Persuasi atau koersif kolektif (uberzeugung oder kllektieve ausrichtung);
5) Menggunakan pernyataan yang jelas dan mengesankan (anschaulichkeit undeindringlichkeit );
6) Digerakkan oleh orang-orang yang memiliki kepribadian (die publizistiche personlichkeit).
Ilmu Publisistik: Ilmu kemasyarakatan yang mempelajari gejala Komunikasi Massa dalam segala seginya (Lee dalam bukunya Publisistik Pers, 1965 dikutip Wiryanto, 2004)
"Komunikasi Massa: Salah satu jenis Komunikasi antar sesama manusia, yang ditujukan kepada sejumlah besar khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak ataupun elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima serentak dan sesaat" (Rakhmat, 1989:214).
Definisi tersebut diilhami oleh definisi-definisi yang dibuat oleh sejumlah pakar, seperti Freidsow, Wright, dan yang lainnya, yang dihimpun oleh Maletzke (1963). Komponen yang digarisbawahi pada batasan pengertian komunikasi massa, bahwa Komunikator adalah suatu Organisasi Sosial yang berkemampuan memproduksi dan menyebarluaskan secara serentak ke sejumlah besar khalayak, yang saling terpisah menurut ruang --termasuk waktu tentunya" (Alexis S. Tan, 1981, yang dikutip Rakhmat, 1989:214).
Maletzke (1963:14-15) mendefinisikan Komunikasi Massa: Zur Massenkomunikaton rechnen sowohl aktuelle als auch rein kuntleriche, belehrende und unterhaltende Aussagen, sofern sich durch Massenmedienverbreitetwerden. Berdasar definisi ini, khususnya berkaitan dengan pesan, komunikasi massa lebih luas dibanding publisistik.
02. Dimensi Massa
Dekade sebelum abad 20, alat mekanik penyerta lahirnya Publisistik atau Komunikasi Massa adalah alat-alat percetakan (press printed) dengan produknya: Surat Kabar, Majalah, Tabloid, Buku-buku, Brosur, dan materi cetakan lainnya. Gejala tersebut meluas memasuki awal abad 20, bersamaan dengan digunakan meluas Film dan Radio, yang disusul Televisi pada era berikutnya.
Pada era telekomunikasi seperti sekarang ini, yang komunikasi dan informasinya menggunakan Sistem Satelit angkasa luar, serat optik dan jaringan komputer memunculkan media online (media dotcom).
Komunikasi massa diadopsi asal istilah bahasa Inggris, yakni mass communication (kependekan mass media communication = komunikasi media massa): "Komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang mass mediated". Istilah mass communications atau communications, yang diartikan sebagai salurannya, yaitu media massa (mass media) sebagai kependekan dari media of mass communication (Susanto, 1974 dalam Pengantar Ilmu Komunikasi karya Wiryanto, 2004:69).
Kata Massa dalam komunikasi massa bermakna lebih dari sebutan "orang banyak". Massa di sini diartikan sebagaimana yang dinyatakan Berlo (1960): "Meliputi semua orang, yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa, atau orang-orang pada ujung lain dari saluran". Massa pun dapat dilihat berdasar dimensinya, yaitu,
1) Abstrak: Sejumlah besar orang yang berkumpul di suatu tempat, yang saling terpisah akan tetapi mempunyai perhatian terhadap sesuatu hal yang sama;
2) Real: Sejumlah besar orang yang tampak (terlihat) oleh Komunikator, yang berkumpul di suatu tempat yang sama. (Santoso Sastropoetro, 1986:146)
03. Karakteristik Komunikasi Massa
1) bersifat tak langsung (melalui suatu media teknis);
2) bersifat satu arah;
3) bersifat terbuka (tertuju kepada sejumlah orang tak terbatas dan anonim);
4) mempunyai khalayak yang tersebar secara geografik
(Elizabeth-Noelle Neuman, 1973 dikutip Rakhmat, 1989:215)
Santoso Sastropoetro (1986) merincinya atas sejumlah indikator-indikator:
1) komunikator atau penyebar pesan merupakan lembaga atau orang yang dilembagakan;
2) pesan, bersifat umum (setiap orang boleh mengetahuinya, bersifat terbuka);
3) media, sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai orang banyak;
4) komunikate atau penerima pesan bersifat massa;
5) penyebaran pesan bersifat serentak;
6) umpan balik (feed back) bersifat tak langsung;
7) pesan yang disebarkan berkecenderungan untuk tidak langsung berpengaruh atas massa (komunikate).
04. Sifat Massa
"Die Masse ... habe eine kleinen Verstand, aber ein grosses Herz" (Massa mempunyai otak kecil, tetapi hati yang besar)
(Emil Dovifat, 1968 dikutip Rakhmat, 1989:340)
Santoso satropoetro (1986:148) merinci sifat tersebut atas
(01) Heterogen (heterogenous): tersusun oleh sejumlah lapisan masyarakat;
(02) Anonim (anonimous): Tidak dikenal satu per satu oleh Komunikator;
(03) Emosional: Sangat mudah tersinggung;
(04) Irrasional: tidak berpikir;
(05) Berkumpul untuk waktu sementara (temporal, temporary) -- sesuai tujuan
05. Karakteristik Psikologik Komuniksi Massa
1) Pengendalian arus Informasi;
2) Sifat Umpan balik-- (Zero Feedback);
3) Keragaman stimuli alat Indera;
4) sifat Proporsi Unsur Isi dibanding Intensitas Hubungan.
06. Rangkuman Temuan Penelitian tentang Efek Komunikasi Massa (McQuail)
1) Apabila efek itu memang terjadi, kerapkali efek itu berbentuk peneguhan atas sikap dan pendapat yang telah ada;
2) Keragaman efek bergantung pada prestise atau penilaian terhadap sumber komunikasi;
3) Semakin sempurna monopoli komunikasi massa, semakin besar kemungkinan perubahan pendapat dapat ditimbulkan pada arah yang dikehendaki;
4) Kadar penting suatu persoalan dianggap khalayak, akan mempengaruhi peluang pengaruh (efek) media massa;
5) Pemilihan dan penafsiran isi oleh khalayak dipengaruhi oleh pendapat dan kepentingan yang ada, dan oleh norma-norma kelompok;
6) Semakin jelas, bahwa struktur hubungan interpersonal (antarpribadi) pada khalayak mengantarai arus isi komunikasi, membatasi, dan menentukan efek yang terjadi
(McQuail, 1975 dalam kutipan Rakhmat, 1989: 225-226)
07. Kerangka Teoretik Defleur dan Ball Rokeach
1) Perspektif Perbedaan Individual: Sikap dan organisasi personal psikologik individu akan menentukan jenis tindakan individu memilih stimuli dari lingkungan, sekaligus tindakan pemberian makna atas stimuli tersebut;
2) Perspektif Kategori Sosial: Kelompok-kelompok sosial masyarakat, reaksinya atas stimuli tertentu cenderung sama;
3) Perspektif Hubungan Sosial: Peranan Hubungan sosial informal menjadi penting dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa.
Model: Two step Flow of Communication
Pertama: Informasi bergerak ke sekelompok individu yang relatif lebih tahu dan sering memperhatikan media;
Kedua : Berawal dari individu-individu itu (pemuka pendapat), melalui saluran interpersonal, informasi tadi disampaikan kepada individu-individu yang memiliki ketergantungan informasi kepada mereka;
Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi orang atas media massa: Organisasi Personal Psikologik Individu (potensi biologik, sikap, nilai-nilai, kepercayaan, serta bidang pengalaman); Kelompok-kelompok, yang individu-individu sebagai anggota; Hubungan-hubungan interpersonal, yang terkait pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi.
08. Asumsi dasar Teori Uses And Gratification
1) Khalayak dinilai bersikap aktif; Penggunaan media massa, diasumsikan memiliki tujuan;
2) Sejumlah inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media, dalam proses komunikasi massa, terletak pada anggota khalayak;
3) Kebutuhan yang dipenuhi media hanya bagian yang menempati ruang kebutuhan pada skala yang terbatas; Kebutuhan-kebutuhan itu membuka lebar kesempatan sumber-sumber lain untuk turut memenuhinya; Pemenuhan kebutuhan itu melalui konsumsi media amatlah bergantung pada perilaku khalayak yang menjadi pemilik kebutuhan itu;
4) Tujuan pemilih media massa, banyak disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak (ada anggapan keputusan orang untuk melaporkan jenis kepentingan dan motif yang mendasari tujuan sesuai situasi telah dimengerti);
5) Penilaian tentang arti kultural dari media massa, harus ditangguhkan, sebelum diperoleh wujud orientasi khalayak
(Blumler and Katz, 1974 dikutip Rakhmat, 1989:232-233)
09. Teori-teori yang mendasari Analisis Motif Kognitif Pengaruh Media:
1) Teori Konsistensi: Memusatkan perhatian adanya kebutuhan individu untuk memelihara keseimbangan intensitas eksternal kepada lingkungan;
2) Teori Kategorisasi: Analisis suatu upaya manusia dalam memberi makna tentang dunia berdasar pada kategori internal dalam dirinya;
3) Teori Objektifikasi: Analisis upaya manusia untuk memberikan makna tentang dunia berdasar perihal ekternal diri orang itu;
4) Teori Atribusi: Analisis perwujudan reaksi (respon) yang diberikan manusia atas suatu peristiwa, yang didasarkan pada interpretasi subjektif orang itu atas peristiwa.
Keempat teori-teori itu berpangkal tolak dari asumsi, bahwa manusia adalah makhluk yang selalu berusaha memelihara keseimbangan (stabilitas) psikologiknya, terutama pada sisi kognitif;
Sedang teori-teori otonomi. stimulasi, teleologik dan utilitarian adalah teori-teori dengan asumsi yang hampir sama atas manusia, namun orientasinya selangkah lebih maju, yaitu dalam berusaha mengembangkan kondisi kognitif yang dimilikinya.
10. Teori-teori yang mendasari analisis Motif Afektif Pengaruh Media:
Teori-teori ini menganalisis dinamika yang menggerakkan manusia untuk mencapai tingkat perasaan tertentu; Asumsi tersebut empat di antaranya:
1) Teori Ekspresif: Orang memperoleh kepuasan dalam mengungkapkan eksistensi (keberadaan) dirinya (ungkapan perasaan dan keyakinan);
2) Teori Peneguhan: Orang dalam situasi tertentu, akan bertingkah laku dengan suatu cara, yang membawanya kepada perolehan suatu ganjaran, sesuai pengalamannya terdahulu;
3) Teori Afiliasi: Manusia adalah makhluk yang mencari kasih sayang dan diterima orang lain; Ingin memelihara hubungan baik secara interpersonal, dengan saling membantu dan saling mencintai;
4) Teori Peniruan: Manusia adalah makhluk yang selalu mengembangkan kemampuan afektifnya; Menekankan orientasi eksternal dalam pencarian gratifikasi; Manusia dinilai akan bertindak secara empatis terhadap perasaan orang-orang yang diamati, dan meniru perilakunya.
11. Paradigma Motivasi dalam hubungan dengan Gratifikasi Media
J. McGuire (1974), yang dikutip Rakhmat (1989:236-237) menyatakan, bahwa terdapat 16 motif pemenuhan kepuasan melalui media. Pengelompokannya bermula dari motif kognitif (pengetahuan) dan motif afektif (perasaan). Kategori-kategori itu menjadi dasar untuk jenis-jenis perhatian: Pemeliharaan diri (stabilitas) dan Pertumbuhan diri (perkembangan); Berdasar segi kadar inisiatif dikelompokkan dalam dua dimensi: Aktif dan pasif; Dimensi-dimensi itu dipecah lagi berdasar orientasi tujuannya, yakni pada diri (internal), dan terhadap diri (eksternal), Tabel matriks ini merupakan tabel 16 sel, yang secara terinci dapat dilihat pada lampiran.
12. Efek Kognitif Komunikasi Massa
(01) Pembentukan dan Pengubahan Citra
Kita membentuk dan mengubah citra atas lingkungan sosial kita berdasarkan realitas tingkat kedua (informasi sekunder), yang ditampilkan media massa.
Sangat kecil peluang kita untuk memperoleh informasi tentang benda, orang, ataupun tempat melalui pengalaman langsung secara keseluruhan. Media massa adalah salah satu pihak yang berusaha menampilkan realitas tersebut. Namun, realitas itu bersifat terpilih, dan merupakan realitas tangan kedua (second hand reality). Peluang orang (khalayak) untuk memeriksa setiap realita yang ditampilkan oleh suatu media, sebagai sesuatu yang benar atau yang baik adalah kecil kemungkinannya.
Berdasar kepada sisi kenyataan itu (otoritas atas realita oleh media dan peluang khalayak untuk memperoleh segala realita dengan pengalaman langsung), menjadikan kondisi khalayak seolah-olah tanpa pilihan, kecuali meyakini realitas lingkungan sosial (regional maupun internasional), sejalan dengan apa yang ditampilkan Media Massa. Apabila tentang sesuatu memang belum ada, maka kesan tentang sesuatu akan terbentuk sejalan dengan deskripsi informasi dari Media. Sebaliknya, apabila informasi tentang sesuatu ditampilkan oleh Media massa, berbeda dengan informasi yang telah ada sebelumnya pada khalayak, maka khalayak termotivasi untuk melaksanakan pengubahan secara bertahap.
(02) Agenda Setting
Media Massa tidak menentukan what to think, tetapi mempengaruhi what to think about.. Media massa berkemampuan untuk menimbulkan perubahan struktur kognitif para khalayak (urutan prioritas atas suatu informasi, penting, tidak penting, kurang penting, suatu persoalan, objek ataupun orang). Media massa seakan-akan mengendalikan sesuatu yang harus diperhatikan secara sungguh-sungguh pada suatu waktu tertentu, dan mengabaikan perihal tertentu untuk waktu yang lainnya oleh khalayak.
(03) Efek Prososial Kognitif
Efek Prososial itu adalah pengaruh yang bermanfaat yang dirasakan atau diperoleh khalayak atas penyajian informasi dan nilai-nilai yang baik dan benar oleh media massa.
Apabila muatan media massa menampilkan sesuatu yang memberi pengaruh kepada struktur kognitif khalayak, secara langsung dari isi, atau tak langsung dari cara penampilan realitas, itulah yang disebut efek prososial kognitif pengaruh media.
13. Efek Afektif Komunikasi Massa
(01) Pembentukan dan Pengubahan Sikap
Pembuktian pengaruh media massa atas pembentukan dan pengubahan sikap khalayak, belum menghasilkan temuan malalui hasil suatu penelitian lapangan. Penelitian serupa, masih terbatas pada setting percobaan laboratorium sosial, yang justeru peluang bias yang timbul akibat pengaruh perlakuan penelitian masih menunjukkan kadar yang tinggi (sukar dimanipulasi).
Solomon E. Asch (1952: Rakhmat, 1989, 1989:264-265) memberi peluang untuk memunculkan suatu solusi atas kecenderungan belum terbuktinya pengaruh media massa atas unsur sikap khalayak. Semua sikap bersumber dari informasi dan pengetahuan yang telah dimiliki khalayak. Sikap itu berkenaan dengan objek, kelompok atau orang. Dasar hubungan kita akan terwujud sesuai informasi atas sifat-sifat variabel sikap tersebut. Jadi sikap kita akan berwujud tertentu atas mereka, akan bergantung pada citra kita atas mereka itu.

Selanjutnya Asch menyatakan, bahwa tidak akan ada teori sikap atau aksi sosial, yang tidak didasarkan kepada penyelidikan tentang dasar-dasar kognitifnya. Media massa tidak mengubah secara langsung sikap khalayak, justeru terlebih dahulu terhadap citra, sedang citra itu mendasari sikap.
Charles K. Atkin (1981: Rakhmat, 1989:265), tanpa merinci wujud teknis pendekatan perlakuan dalam penelitiannya (peranan media masa dalam sosialisasi politik) menyatakan, bahwa media massa secara berarti (bermakna) mempengaruhi orientasi afektif, walau tidak sebesar dampak terhadap orientasi kognitif.
(02) Rangsangan Emosional
Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas rangsangan emosional pesan media massa: Suasana Emosional (mood), Skema Kognitif, Suasana Terpaan, Predisposisi Individual, dan tinglkat identifikasi khalayak atas tokoh dalam media massa (Weiss, 1969: Rakhmat, 1989:266).
(03) Rangsangan Seksual
Media massa yang berpeluang memberi pengaruh rangsangan seksual pada khalayak adalah media massa yang bermuatan bahan-bahan yang secara relatif tergolong erotik (SEM = Sexually Explicit Material --Tan, 1981: Rakhmat, 1989:269).
Satu wujud material, non material, suasana, atau subjek yang dimanipulasi melalui suatu proses pelaziman (conditioning), yang semula dianggap mustahil sebagai unsur erotika, menjadi sangat efektif menimbulkan rangsang kepada khalayak, sejalan dengan dukungan pengalaman terdahulu.
Imajinasi dan pengalaman (memori) memberi kekuatan rangsang, nyaris dua kali lebih kuat dibanding tingkat rangsang yang diberikan oleh Gambar (slide) dan deskripsi cerita (Baron and Byrne, 1979 dikutip Rakhmat, 1989:270).
Khalayak yang lebih banyak pengalaman seksual makin mudah ia terangsang oleh adegan-adegan seksual. Lebih khusus lagi pada wanita, hubungan pengalaman dan rangsangan itu amat tajam intensitasnya (Griffitt, 1975: Rakhmat, 1989:270).
Media erotika dapat berfungsi sebagai aphrodisiac: Pembangkit gairah seks, kepentingan fantasi sendiri, atau untuk orang lain. Jadi media massa memang dapat menjadi stimuli erotik eksternal.
14. Efek Perbuatan (behavioral) Komunikasi Massa
(01) Efek Prososial Behavioral
Perilaku prososial adalah segala kemampuan untuk bertindak atau berbuat susatu yang bermanfaat bagi diri sendiri, dan juga bagi orang lain.
Media massa telah menciptakan suatu proses belajar yang pelik pada khalayak. Proses itu menjadi bagian efek prososial media massa.
Secara psikologik, proses belajar itu dapat dijelaskan melalui Teori Belajar Sosial (Bandura). Kita belajar bukan saja dari pengalaman langsung, akan tetapi juga dari proses peniruan atau peneladanan (modeling). Perilaku = faktor kognitif ditambah komponen lingkungan. Kemampuan kepemilikan keterampilan tertentu, apabila terjadi jalinan positif antara stimuli yang kita amati dan karakteristik kita sendiri, demikian Bandura.
Empat Tahapan Proses Belajar Sosial menurut Bandura:
Pertama: Proses Perhatian. Adanya suatu peristiwa yang teramati secara langsung, atau pun tak langsung oleh seseorang. Peristiwa yang dimaksudkan adalah berupa tindakannya, atau pun sesuatu yang abstrak (gambaran pola pemikiran), yang selanjutnya disebut Bandura sebagai abstract modeling (seperti nilai, sikap, dan persepsi realitas sosial).
Berlangsung proses pengamatan, merupakan prasyarat telah dimulainya tahap pertama, yakni perhatian.
Tidak setiap peristiwa yang dapat disaksikan, keseluruhannya kita perhatikan. Kita baru dapat mempelajari sesuatu, apabila kita memperhatikannya.
Kedua: Tahap Pengingatan (retention). Khalayak yang berkemampuan menyimpan hasil pengamatannya ke dalam benaknya, dan memanggilnya kembali, ketika mereka akan bertindak sesuai teladan yang telah diberikan.
Peneladanan tertangguh (delayed modeling), hanya akan terjadi pada mereka yang sanggup mengingat peristiwa yang pernah diamatinya.
Kemampuan membayangkan secara mental (visualisasi), atas bentuk kita sedang bertindak sesuai keteladanan (= rehearsal, masih ingat cara agar informasi masuk ke LTM pada komunikasi intrapersonal ?), merupakan jaminan akan peristiwa itu untuk diteladani.
Ketiga: Proses Reproduksi Motorik. Proses menghasilkan kembali tingkah laku atau tindakan, sesuai yang telah diamati.
Keempat: Jaminan akan terjadi tindakan sesuai keteladanan, semua itu akan bergantung pada motivasi dan peneguhan yang terdapat pada diri individu.
Adalah tiga macam peneguhan yang membuat orang bertindak:
a) peneguhan eksternal (yang berasal dari luar diri);
b) peneguhan Beralih (vicarious reinforcement);
c) peneguhan Diri (self reinforcement).
(02) Tindakan agresi
Baron and Byrne (1979: Rakhmat, 1989: 275): "Setiap bentuk perilaku yang diarahkan untuk merusak atau melukai orang lain, yang menghindari dari perlakuan seperti itu".
Berdasar hasil sejumlah penelitian tentang efek adegan kekerasan dalam film (layar lebar) dan televisi, diperoleh simpulan-simpulan atas proses efek itu terjadi, yakni dalam tiga tahap:
pertama. penonton mempelajari metoda agresi setelah melihat contoh (observational learning);
kedua. terjadi kondisi penonton untuk mengendalikan diri menjadi menurun (disinhibition);
ketiga. khalayak penonton yang telah berubah jadi agresif, tak lagi tersentuh (rasa) oleh orang yang menjadi korban agresi (desensitization).
15. Pengaruh Media Massa, hubungannya dengan Pembentukan dan Pengubahan Sikap berdasar hasil-hasil penelitian efek Media Massa
(01) pengaruh komunikasi massa diantarai oleh faktor-faktor predisposisi personal, proses selektif, keanggotaan kelompok;
(02) berdasar pada faktor-faktor tersebut di atas, komunikasi massa sering berfungsi memperkukuh sikap dan pendapat yang telah ada, walau kadangkala, juga berfungsi sebagai media pengubah (agent of change);
(03) apabila komunikasi massa menimbulkan perubahan sikap, perubahan kecil pada intensitas sikap, lebih umum terjadi, dibanding kondisi konversi (perubahan seluruh sikap), dari satu sisi masalah ke sisi yang lain
(Oskamp, 1977: Rakhmat, 1989: 263)
16. Teori-teori Efek Sosial Komunikasi Massa
(01) Teori Harold adams Innis (1951)
Media mempengaruhi bentuk-bentuk Organisasi Sosial. Setiap media berkecenderungan memihak kepada ruang dan waktu.
Suatu media berpredikat bias pada waktu, apabila suatu media sukar untuk berpindah ke tempat-tempat yang lebih jauh, namun kondisinya tahan lama.
Suatu mediapun dapat berpredikat bias pada ruang, apabila pesan dapat disebarluaskan ke tempat lain yang lebih jauh, sehingga terjadi ekspansi teritorial, mobilisasi penduduk secara horizontal, dan kekaisaran, namun tidak bertahan lama.
Apabila komunikasi bias pada waktu, akan menempatkan orang pada ruang yang terbatas (hanya pada kelompok yang erat terikat karena sejarah, tradisi, agama dan keluarga).
Bias waktu, akan membawa ke masa lalu.
Bias ruang, akan membawa ke masa depan.
Media lisan berstatus bias waktu. Media tulisan bermakna bias ruang.
(02) Teori Marshall McLuhan
Setiap media memiliki kekhasan tata bahasa (seperangkat aturan yang terkait erat dengan berbagai alat indera, dalam hubungannya dengan penggunaan media)
Setiap tata bahasa media berkecenderungan bias pada alat indera tertentu.
Media adalah perpanjangan alat indera.
Media mempunyai pengaruh yang berbeda, terhadap perilaku orang yang menggunakannya. Media Lisan: Menciptakan keakraban sosial dan kehidupan kelompok. Media Cetak: Menimbulkan Individualisme. Televisi: Penyebab Demokrasi Kolektif.
(03) Teori George Gerbner et al
Gerbner adalah Dekan Annenberg School of Communication, University of Pensylvania, Juga, peneliti analisis media-media, khususnya media eletronik.
Penelitian atas komunikasi massa sebelumnya, lebih mengonsentrasikan pada efek kognitif, afektif dan psikomotor (behavioral). sedang Gerbner et al menghubungkan efek dengan Ideologi khalayak.
Ideologi (berdasar komentar Luc van Poecke, 1980 terhadap konsep teori Gerbner et al): Serangkaian penjelasan tentang realitas, yang merupakan gambaran terpadu dan homogen tentang apa yang ada, apa yang penting, apa berhubungan dengan apa, dan apa yang benar, termasuk upaya penanaman aturan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.
(Rakhmat, 1989:283)
Televisi, menurut Gerner et al, merupakan mesin ideologi yang paling ideal.
Media massa berkemampuan membentuk lingkungan simbolik melalui aplikasi kurikulum terselubung menyangkut program sajian realitasnya.
Efek media massa dianalisis dengan melihat dan menelaah lingkungan simbolik yang disajikan media tersebut, yang menggunakan alat, Indikator Kulktural.
Indikator Kultural sebagai alat berisi antara lain: Apa hubungan antara lembaga media massa dengan lembaga-lembaga yang lain. Bagaimana dan pada tingkat mana diambil keputusan tentang pesan. Apa pengaruh kekuasaan, peranan dan hubungan sosial terhadap proses pemilihan, perumusan, dan penyebar pesan (Gerbner, 1973 dikutip Rakhmat, 1989:283)
Televisi berfungsi menanamkan ideologi. Usaha menganalisis berbagai akibat penanaman ideologi disebut cultivation analysis.
Konsep Mainstreaming (mengikut arus) dari Gerbner: Kesamaan di antara pemirsa berat (heavy viewers) pada berbagai kelompok demografik, dan perbedaan dari kesamaan itu pada pemirsa ringan (light viewers). Apabila televisi sering menyajikan adegan kekerasan, maka penonton berat akan melihat dunia ini dipenuhi dengan kekerasan. Sementara itu, penonton ringan akan melihat dunia tidak sesuram seperti yang terjadi pada penonton berat.
Resonance: Suatu kondisi yang menunjukkan adanya kesesuaian (cocok) antara yang disajikan televisi dengan apa yang disaksikan pemirsa pada lingkungannya, sehingga penanaman ideologi oleh televisi semakin kuat.
(04) Teori Imitasi dan Sugesti dari David F. Philips
Hipotesis penelitiannya: Publikasi bunuh diri menggalakkan peristiwa bunuh diri lagi, dan sebagian dari peristiwa bunuh diri itu tersembunyi sebagai kecelakaan mobil.
Hasil penelitiannya:
(a) peristiwa bunuh diri bertambah secara mencolok setelah publikasi;
(b) kecelakaan mobil fatal juga meningkat;
(c) kecelakaan mobil yang dikemudikan sendiri, meningkat;
(d) usia pengemudi kecelakaan berkorelasi dengan usia pelaku bunuh diri pemberitaan media massa;
(e) semakin luas areal pemberitaan, semakin besar peningkatan bunuh diri dan kecelakaan lalu lintas fatal;
(f) tingkat bunuh diri dan tingkat kecelakaan yang tertinggi , terutama terjadi pada wilayah yang dijangkau publikasi.
Ia pun menghubungkan analisis antara peristiwa bunuh diri yang diberitakan dengan kecelakaan pesawat terbang, yang keduanya pun menunjukkan hubungan.
Ia menyebut proses tersebut sebagai peristiwa imitasi, yang selanjutnya diberi sebutan penularan kultural (Cultural Contagion).
Enam Karakteristik Penularan Kultural:
(a) Periode Inkubasi;
(b) Imunisasi;
(c) Penularan khusus atau umum;
(d) Kerentanan untuk ditulari;
(e) Media infeksi;
(f) Karantina.

BENTUK DAN TEKNIK PENILAIAN
01. Jelaskan Karakteristik yang paling khas pada komunikasi massa dibanding komunikasi antarpribadi (interpersonal);
02. Jelaskan motif dasarnya, sehingga umpan balik pada proses komunikasi massa nyaris berstatus zero feedback;
03. Jelaskan, bahwa efek komunikasi massa itu masih dipengaruhi wujud yang terjadi pada komunikasi antarpribadi, berdasar hasil penelitian atas efek komunikasi massa;
04. Jelaskan kerangka prinsipal teori DeFleur & Ball Rokeach dengan menggunakan contoh penerapannya atas suatu media massa tertentu;
05. Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk reaksi orang atas media massa, dengan menggunakan sejumlah contoh nyata faktor-faktor penyebabnya;
06. Jelaskan perbandingan kekuasaan khalayak dengan kekuatan promosi media massa, dalam khalayak menentukan pilihan atas media massa menurut teori Uses and Gratification;
07. Jelaskan melalui penggunaan contoh aplikasi teori Objektifikasi yang menganalisis motif kognitif pengaruh media (massa);
08. Jelaskan melalui penggunaan suatu contoh aplikasi teori Peneguhan sebagai salah satu teori yang menganalisis motif Afektif pengaruh media massa;
09. Jelaskan bagian dari tabel Paradigma motivasi manusia dalam hubungan dengan Gratifikasi media yang menunjukkan, bahwa Mcguire sesungguhnya masih memandang adanya keseimbangan antara kekuasaan mandiri (otonom) pada khalayak dengan kekuatan promosi media, ketika khalayak berada dalam proses menentukan pilihan media;
10. Jelaskan efek Kognitif komunikasi massa dengan keterangan yang menggunakan contoh;
11. Jelaskan wujud efek afektif komunikasi massa dengan keterangan yang menggunakan contoh;
12. Jelaskan dengan menggunakan contoh, empat tahapan Proses Belajar Sosial dari Bandura;
13. Jelaskan dengan menggunakan contoh alasan-alasan rasional, bahwa media massa sesungguhnya tidak berkekuatan mengubah sikap khalayak secara radikal;
14. Jelaskan dengan suatu contoh, bahwa media tertentu dapat tergolong Bias waktu dan Bias pada ruang;
15. Jelaskan dengan menggunakan contoh, jenis bias setiap media adalah berbeda-beda, jika dihadapkan pada alat indera, sesuai analisis McLuhan;
16. Jelaskan wujud pengaruh media-media Cetak dan Lisan terhadap Perilaku khalayak;
17. Sebutkan perbedaan prinsipal antara pendekatan penelitian yang mendasari teori Harold Adams Innis, dan teori Marshall McLuhan dengan teori Gerbner serta teori David P. Phillips;
18. Jelaskan asumsi dasar dari penelitian yang mendasari teori Imitasi dan sugesti David P. Phillips;
19. Jelaskan apa yang dimaksudkan Gerbner sebagai Lingkungan simbolik;
20 Jelaskan dengan suatu contoh peristiwa enam karakteristik penularan kultural (cultural contagion) dari David P. Phillips

Sejarah Perkembangan Teknologi Komunikasi

Posted by Naziri Andanta (Mekhanai Kesih) On 1 komentar

Perkembangan teknologi komunikasi diawali oleh penemuan sebuah alat cetak pada tahun 1041. Meskipun Johann Gutenberg, seorang yang berkebangsaan Jerman, dikenal sebagai orang yang membuat cetak-mencetak menjadi poses yang jauh lebih cepat dan ekonomis di tahun 1436, namun pemikiran Gutenberg ini bercikal dari sebuah penemuan awal alat cetak di Cina pada tahun 1041 tadi.
Seorang bernama Bi Zheng di Cina diakui secara umum sebagai pencipta keterampilan cetak-mencetak. Tahun 1041, ia mencetak dokumen-dokumennya yang pertama dengan menggunakan cetakan huruf yang sudah ia bakar dalam tanah liat dan kemudian dibentuk menjadi kalimat. Proses Bi Zheng diperbaiki oleh Wang Zhen pada tahun 1298, yang membuat huruf-hurufnya dari kayu keras dan selanjutnya mencetak buku-buku dan bahkan surat kabar.
Dengan demikian di Asia, cetak-mencetak sudah berlangsung sejak sekitar 100 tahun yang lalu, terutama di Cina dan Korea. Teks dan gambar diukirkan pada kepingan papan, logam atau tanah liat, kemudian acuan stempel itu diberi tinta, ditumpangi selembar kertas lalu di tekan rata.
Di Eropa cara mencetak semacam itu pertama kali disempurnakan oleh Johann Gutenberg, yang hasil penyempurnaannya itu merupakan salah-satu hasil karya terbesar dalam sejarah sampai saat ini. Sejak saat itu industri percetakan pun mulai dan terus berkembang.
Masa Renaisans yang dikenal sebagai masa kebangkitan Romawi dan Yunani Kuno, yang merupakan masa hidupnya hampir sebagian besar tokoh-tokoh penemu bersejarah, termasuk masa di mana Johan Gutenberg lahir dan mematenkan hasil karyanya, akhirnya berakhir. Kehidupan terus berjalan dan penciptaan-penciptaan tidak berhenti bermunculan.
Dari keempat jenis media massa maka pers dalam artian surat kabar dan majalah merupakan media tertua. Film, radio, televisi adalah media yang lahir setelah surat kabar dan majalah. Menurut sejarah pers, surat kabar yang tertua adalah Notizie Scritte di Vinesia yang terbit pada tahun 1566. Sedangkan majalah yang pertama diterbitkan adalah Gentelman’s Megazine pada tahun 1731 di London.
Sampai akhir abad 19, kegiatan komunikasi massa hanya dilakukan oleh suratkabar dan majalah. Media Massa lainnya belum lahir.sekarang suratkabar dan majalah sudah mengalami kemajuan sangat pesat sesuai dengan perkembangan tekhnologi yang semakin canggih. Kalau pada mulanya suratkabar dan majalah hanya dicetak dengan tinta hitam saja, sekarang dicetak dengan banyak warna atau disebut full-colour.
Teknik percetakan yang sudah semakin maju telah mngantarkan bentuk suratkabar dan majalah semakin baik dan indah. Selain dari itu, tekhnik penulisan isi redaksionalnya sudah semakin baik pula.
Perkembangan terakhir adalah diperlukannya teknik percetakan jarak jauh. Cetak jarak jauh ini telah diterapkan oleh beberapa suratkabar besar di dunia. Suratkabar yang dulunya hanya dicetak di London, sekarang dalam waktu bersamaan juga dicetak di Hongkong. Teknik ini juga akan berlaku di Indonesia. Tekhnik cetak jarak jauh tentu akan memudahkan pendistribusian media cetak ke daerah, sehingga waktu pengiriman bisa dipangkas.
Sementara itu, juga di abad ke-19, saat mesin uap mampu menaikkan kecepatan yang ditempuh kendaraan baik di darat ataupun di laut, dengan jelas muncul kebutuhan sebuah sarana komunikasi langsung jarak jauh. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk menunjang terciptanya komunikasi secara jelas meski berada pada tempat-tempat yang begitu jauh dari pandangan mata. Dalam pengertian bahwa komunikasi itu harus lebih cepat dari kecepatan kapal maupun kilat.
Tahun 1791, Abbe Claude Chappe (1763-1805) menyatukan dua kata menjadi sebuah istilah, telegram optik, untuk menggambarkan digunakannya sederet menara untuk mengirimkan sebuah pesan yang kasat mata oleh satu menara dari satu menara sebelumnya. Sistem Chappe ini membutuhkan 120 menara berjajar yang mampu mengirimkan sebuah pesan antara Paris dan Laut Tengah dalam waktu kurang dari satu jam, yang berarti lebih cepat dari kuda tunggang yang tercepat.
Semua sistem ini bergantung pada sinyal-sinyal yang kasat mata. Telegram merupakan sebuah terobosan dalam komunikasi karena ini memungkinkan terjadinya komunikasi instan antara dua orang yang tidak berhadapan muka. Gagasan untuk mengirimkan pesan-pesan sandi dengan sarana kabel yang masing-masing mewakili setiap huruf dalam abjad.
Selanjutnya perkembangan dari telegram ini adalah penemuan yang dilakukan oleh Michael Faraday (1791-1867) yang mampu membuktikan bahwa getaran-getaran logam dapat diubah menjadi impuls-impuls listrik. Inilah yang menjadi cikal-bakal diciptakannya telepon oleh dua orang yang bekerja secara terpisah di Amerika Serikat. Mereka adalah Alexander Graham Bell (1847-1922) kelahiran Skotlandia dan Elisha Gray (1835-1901).
Keduanya mematenkan karyanya di New York pada tanggal 14 Februari 1876. Namun, karaya Bell mampu mengalahkan karya Gray . Meskipun Gray yang pertama kali membuat diafragma/alat penerima elektromagnit baja pada tahun 1874, tapi ia tidak menguasai desain pemancar yang mudah digunakan sebelum Bell berhasil membuatnya.
Sebelum berkembangnya televisi sebagai media massa, dunia telah lebih dulu dipikat oleh kemunculan film.
Film dimasukkan ke dalam kelompok Komunikasi Massa. Selain mengandung aspek hiburan, juga memuat pesan edukatif. Namun aspek sosial kontrolnya tidak sekuat pada suratkabar atau mserta televisi yang memang menyiarkan berita berdasarkan fakta terjadi. Fakta dalam film ditampilkan secara abstrak, di mana tema cerita bertitik tolak dari fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Bahkan dalam film, cerita dibuat secara imajinatif. Film sebagai alat komunikasi massa baru dimulai pada tahun 1901, ketika Ferdinand Zecca membuat film “The Story of Crime” di Perancis dan Edwar S. Porter membuat film “The Life of an American Fireman” tahun 1992.
Film yang mempunyai suara baru ditemukan pada tahun 1927. Dari masa ke masa, film mengalami perkembangan, termasuk soal warna yang semula hitam putih sekarang sudah berwarna. Namun sekarang ini, film tidak populer disebut sebagai komunikasi atau media massa, karena media massa lebih berkonotasi kepada media yang memuat berita yang digarap oleh para reporter atau wartawan. Film lebih banyak difahami sebagai media hiburan semata yang diputar di bioskop dan televisi.
Baru setelah tahun 1946, kegiatan dalam bidang televisi tersebut tampak dimulai lagi. Pada waktu itu, di seluruh Amerika Serikat hanya terdapat beberapa buah pemancar. Tetapi kemudian, karena situasi dan kondisi yang mengizinkan serta perkembangan tekhnologi, maka jumlah studio/pemancar televisi pun meninglat dengan hebatnya.
Pekembangan ini dimulai dari ditemukannya electrische teleskop sebagai perwujudan gagasan seseorang mahasiswa dari Berlin (Jerman Timur) yang bernama Paul Nikov, untuk mengirim gambar melalui udara dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini terjadi antara tahun 1883-1884. Akhirnya Nikov diakui sebagai “Bapak Televisi”. Televisi mulai dapat dinikmati oleh publik Amerika Serikat (AS) pada tahun 1939, yaitu ketika berlangsungnya “World’s Fair” di New York, namun sempat terhenti ketika terjadi Perang Dunia II.
Sekarang , sudah sekitar 750 stasiun televisi terdapat di negara Paman Sam itu. Tak heran, bila televisi akhirnya menjadi kebutuhan hidup sehari-hari di seluruh penjuru AS dan merupakan kekuatan yang luar biasa dalam komunikasi massa. Lebih dari 75 juta pesawat televisi digunakan secara tetap.
Pada tahun 1946, televisi dinikmati sebagai media massa ketika khalayak dapat menonton siaran Rapat Dewan Keamanan PBB di New York. Dewasa ini, setiap negara telah mempunyai pemancar televisi. Bahkan melalui parabola sebagai sambungan satelit, pemirsa dapat menikmati siaran dari luar negaranya seperti yang terjadi di Indonesia. Dengan demikian arus berita dan informasi lewat televisi semakin beragam.
Namun demikian, penyiaran televisi ke rumah pertama dilakukan pada tahun 1928 secara terbatas ke rumah tiga orang eksekutif General Electric, menggunakan alat yang sederhana. Sedangkan penyiaran televise secara elektrik pertama kali dilakukan pada tahun 1936 oleh British Broadcasting Coorporation. Semenata di Jerman penyiaran TV pertama kali terjadi pada tanggal 11 Mei 1939. Stasiun televisi itu kemudian diberi nama Nipko, sebagai pengahargaan terhadap Paul Nikov.
Televisi selain menyajikan aspek hiburan, juga menyiarkan berita, yang ada antaranya bersifat sosial kontrol. Karena itu, televisi sebagai media massa telah menjadi salah satu kebutuhan masyarakat di rumah tangga masing-masing.
Sebagai media massa yang muncul belakangan dibandingkan media cetak, televisi baru berperan selama tiga puluh tahun. ‘Kotak ajaib’ ini sendiri lahir setelah adanya beberapa penemuan tekhnologi, seperti telepon, telegraf, fotografi (yang bergerak dan tidak bergerak) serta rekaman suara. Terlepas dari semua itu, pada kenyataannya media televisi kini dapat dibahas secara mendalam, baik dari segi isi pesan maupun penggunaannya.
Selang seabad kemudian, pada malam tanggal 30 oktober 1938, ribuan masyarakat Amerika panik karena siaran radio yang menggambarkan serangan makhluk mars yang mengancam peradaban manusia. Karena belum pernah terjadi maka serentak seluruh masyarakat Amerika tegang dan kalang kabut.
Akibat peristiwa tersebut para pakar peneliti sosial tertarik untuk meneliti masalah tersebut. Karena hal tersebut menggambarkan keperkasaan media dalam hal mempengaruhi khalayaknya. Karena dengan media orang bisa berebut kekuasaan dengan mudah seperti yang dilakukan oleh Hitler, Musolini, dan Lenin.
Guglielmo Marconi (Griffone, dekat Bologna, 25 Aprl 1874-Roma, 20 Juli 1937). Insinyur lektro Italia; adalah orang pertama yang pada tahun 1895 berhasil melakukan pengiriman sinyal tanpa kawat melewati jarak + 2 km, dengan suatu pesawat pemancar dan pengirim buatannya sendiri,kedua-duanya dilengkapi dengan antena penemuannya sendiri pula. Pada tahun 1898 berhasil dijalin hubungan telegraf tanpa kawat antara Inggeris dan Perancis; tahun 1909 dia menerima hadiah Nobel untuk ilmu alam bersama K. F. Braun, penemu tabung sinar elektron dan penerap lingkaran getaran pada radio telegrafi penemuan Marconi.
Penyiar informasi dalam bentuk berita dan penyiaran musik oleh radio dimulai hampir bersamaan. Tetapi yang terkenal ialah penyiaran kegiatan pemilihan umum presidan Amerika Serikat pada tanggal 2 November 1920 yang dianggap sebagai penyiaran berita pertama secara luas dan teratur kepada masyarakat. Sementara di Amerika Serikat orang yang dinilai berjasa dalam penemuan radio adalah Dr. Lee De Forest dan Dr. Frank Conrad, yang berperan dalam penemuan radio di tahun 1920.
Usaha Marconi ketika itu baru berhasil pada tahap mengirimkan gelombang radio secara on dan off (nyala dan mati), sehingga baru bisa menyiarkan kode telegraf. Lee De Frost lalu menemukan vacumm tube yang berfungsi menangkap sinyal radio walaupun lemah. Sementara Frank Conrad secara regular menyiarkan produk-produk sebuah department store di AS. Akibat siaran ini, angka penjualan pesawat radio meningkat tajam hingga 500 ribu buah pada tahu 1923, atau meningkat 5 kali lipat dibangingkan tahun berikutnya. Radio sebagai media elektronik, dimasukkan kepada komunikasi massa, karena ada berita yang disiarkan secara luas dan dapat di dengar oleh orang banyak. Untuk berita, radio mempunyai reporter khusus yang mencari dan mengolah berita.
Sekarang radio masih tetap memainkan perannya sebagai media massa, meskipun televisi dan surat kabar atau majalah mengalami kemajuan pesat, baik kualitas maupun kuantitasnya. Tapi radio mempunyai kelebihan tersendiri, sebab seorang dapat mengikuti sambil tetap melakukan pekerjaannya. Berbeda dengan surat kabar atau televisi yang memerlukan penglihatan.
Perkembangan mutakhir dari teknologi komunikasi adalah kemunculan internet yang merebak dengan cepat. Sebelum membahas tentang internet, terlebih dahulu kita bahas mengenai penemuan komputer sebagi sarana yang digunakan untuk emngakses internet.
Komputer pertama yang bernama Colossus 1, dibuat di Amerika Serikat pada awal tahun 1941. Perkembangan-perkembangan sebelumnya, yang merintis lahirnya komputer modern adalah dimulai dari berkembangnya aljabar logik dari George Boole (Inggris), yang dikembangkan oleh Charles Babbage yang menghasilkan kalkulator manikal yang dinamakan ‘Differential Engine’.
Dari perkembangan tersebutlah, lalu pada tahun 1937 seorang insyinyur Amerika, howard Aiken merancang IBM Mark 7, yang menjadi cikal-bakal dari komputer besar masa kini, yang mengunakan tabung hampa udara dan memiliki tombol-tombol elektromagnetik, bukan elektronik.
Komputer elektronik yang pertama yang telah dituliskan bernama Colossus 1, akhirnya dibuat oleh Alan Turing dan M.H.A Neuman, untuk pemerintah Britania di universitas Manchester.
Dari kemunculan komputer inilah yang di kemudian hari terus mengembang dan akhirnya lahirlar fasilitas internet. Internet adalah sejenis media massa yang agak baru.
Tahun 1972 merupakan awal kelahiran jaringan internet, yaitu dengan adanya proyek yang menghubungkan antara jaringan komunikasi pada jaringan komputer ARPANET. Proyek tersebut telah menetapkan sebuah metoda baru untuk menghubungkan berbagai macam jaringan yang berbeda yang dikenal sebagai konsep gateway. Pada tahun 1973-1977, dikembangkan protokol TCP/IP (Transmission Control/Internetworking Protocol). Protokol ini digunakan untuk pengiriman informasi yang dikenal sebagai paket (packet).
Internet baru dimanfaatkan di Indonesia pada tahun 1996. Seseorang yang mempunyai pesawat komputer dapat menyambungkannya dengan jaringan komputer lainnya lewat satelit. Perbedaannnya dengan teknologi komunikasi lainnya bahwa internet dapat dibuat oleh orang perorang, bukan hanya oleh satu lembaga yang bergerak dalam penyiaran informasi.
Informasi yang dibuat seseorang dapat diketahui oleh banyak orang sepanjang orang lain tersebut mempunyai jaringan. Karena dapat diakses oleh publik inilah, maka internet dapat dikategorikan sebagai media massa.
Lebih dari lima orang Amerika dewasa mengggunakan internet di rumah, kantor atau sekolah, dan di atas 10% menggunakannya setiap hari. Dari karakteristik jenis kelamin hampir sama banyaknya lelaki dengan perempuan yang menggunakan web (situs).
Internet merupakan aktivitas mereka sehari-hari. Situs juga menjadi sumber informasi untuk hiburan dan informasi untuk perjalanan wisata. Pengguna internet bergantung pada situs untuk memperoleh berita. Dua sampai tiga pengguna internet mengakses situs untuk mendapatkan berita terbaru setiap minggunya.
Namun demikian kehadiran internet yang mewabah dengan cepat serta mampu membuat para penggunaya menjadi ketagihan telah memberikan dampak mengejutkan terutama pada perusahaan-perusahaan penyedia jasa internet. Seirng berjalannya waktu internet menjadi seperti media komunikasi yang lazim ditemukan. Siapapun nyaris bisa mengakses layanan internet kapan dan di manapun. Sehingga tarif internet menjadi murah. Sebagaimana yang dituliskan Joseph Straubhaar dan Robert LaRose dalam buku “Media Now”:

At the turn of the century, the Web began to converge with conventional electronic media as many of the “dot-com” companies that pioneered the internet ran out of money and died. Consumer interest, in on-line information, entertainment, and electronic shopping, or e-commerce, reached levels comparable to the early days of radio or television. Home computer ownership surpassed 50 percent as personal computer prices plummeted. Forty percent of all U.S. consumers had acces ti the internet at home, school or work, although many minority and low-income families were left behind by the internet craze (NTIA, 2000).
To reach the millions of eyeballs now glued to the Web, conventional media rolled out Web versionof their products and ivested in internet properties, internet active televition and on-line newspaper aimed to intergrate Web content with the conventional media consumption experience within the framework of conventional advertising-supported media. Cable TV systems offered internet service, telephone companies placed calls over the internet and traditional broadcasters like NBC AOL’s acquisition of the Time Warner media conglomerate in 2000 marked the beginning of a new phase of integrating “old media” with the new internet media to take advantage of the strengths of both.

DAFTAR PUSTAKA
Yenne, Bill, Seri Sekilas Mengetahui, 100 Peristiwa yang Berpengaruh Di Dalam Sejarah Dunia, Karisma Publishing Group, Batam: 2002.
Kuswandi, Wawan, Komunikasi Massa, Sebuah Analisis Media Televisi, PT RinekaCipta, Jakarta: 1996.
Rahmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung: 2005.
Mufid, Muhammad, Komunikasi dan Regulasi Penyiaran, Prenada MediaGroup, Jakarta: 2007.
Sutanta, Edhy, Komunikasi Data & Jaringan Komputer, Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta: 2005.
Straubhaar, Joseph, Robert LaRose, Media Now, Communications Media in the Information Age, Wadsworth Group, United States of America: 2002.
Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala, Siti Karlinah, Komunikasi Massa, Suatu Pengantar, Edisi Revisi, Simbiosa Rekatama Media, Bandung: 2007.
Ensiklopedi Indonesia, Jilid 2, (Jakarta: PT Ichtiar Baru-Van Hoeve, 1989), h. 649.
Ensiklopedi Indonesia, Jilid 4, (Jakarta: PT Ichtiar Baru-Van Hoeve, 1989), h. 2142.
Onong Uchana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005),h.26.